Bisnis penjualan elpiji yang dikelola Koperasi Merah Putih di Kabupaten Pamekasan tengah menghadapi masa sulit. Dari usaha tersebut, keuntungan yang berhasil dikumpulkan hanya sekitar Rp 200 ribu per bulan. Hal ini diungkapkan oleh salah satu ketua koperasi berinisial AS pada Minggu (7/9/2025).
Menurut penjelasan AS, setiap tabung elpiji yang dijual memberikan margin keuntungan sekitar Rp 2.000. Namun, suplai dari Pertamina dibatasi hanya 100 tabung per bulan, sehingga omzet yang masuk tidak mampu mendongkrak pendapatan koperasi. “Di pasaran, elpiji subsidi rata-rata dijual Rp 18 ribu per tabung,” ujarnya.
Harga dasar yang diterima koperasi dari Pertamina sebesar Rp 16 ribu per tabung. Dengan selisih harga tersebut, total laba yang bisa diraih per bulan tetap berkisar Rp 200 ribu, dan itu pun dengan asumsi seluruh tabung terjual. “Kalau kita menjual di harga yang sama seperti toko dan kios, hasilnya tetap Rp 200 ribu. Kalau dijual lebih murah, keuntungan justru semakin menurun dan merugikan pihak koperasi,” tambahnya.
Ketua koperasi lainnya, A, menegaskan bahwa pembatasan distribusi elpiji ini membuat roda bisnis koperasi sulit bergerak. “Menjual 100 tabung dengan harga Rp 18 ribu hanya menghasilkan Rp 200 ribu. Itu jelas tidak cukup untuk menutup biaya operasional,” ucapnya.
Menurut A, risiko kerugian akan semakin besar jika koperasi harus mengantar tabung ke pembeli. “Kalau pembeli mengambil langsung di koperasi mungkin masih bisa bertahan. Tapi kalau harus diantar, pasti rugi,” jelasnya.
Kondisi ini juga berdampak pada kemampuan koperasi mengembalikan modal pinjaman ke bank. “Dengan keuntungan sekecil itu, bagaimana koperasi bisa mengembalikan modal ke bank himbara,” keluhnya. Ia berharap ada langkah kebijakan yang dapat membantu koperasi agar bisnis elpiji bisa berjalan lebih sehat dan menguntungkan.
Pembatasan pasokan ini disampaikan Pertamina kepada seluruh koperasi Merah Putih di Pamekasan dalam pertemuan bersama Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Ketenagakerjaan (Diskop UKM dan Naker).
Kepala Bidang Koperasi Diskop UKM dan Naker Pamekasan, Baihaki, membenarkan adanya pembatasan suplai elpiji tersebut. “Benar, sementara ini masih 100 tabung per bulan. Itu kebijakan dari Pertamina,” ujarnya.
Saat ditanya terkait harga dan durasi kebijakan pembatasan, Baihaki menyebut kewenangan sepenuhnya berada di tangan Pertamina. “Sepertinya hanya bersifat sementara, nanti bisa disesuaikan kembali,” pungkasnya.

